Minggu, 22 Mei 2011

dari pada bosan lebih baik menanam karma baik di pekanbaru

fotoAnggota Tzu Ching Pekanbaru melakukan pengecatan Posko Daur Ulang Tzu Chi Pekanbaru agar tampak lebih menarik dan mendorong orang untuk bersumbangsih dalam misi pelestarian lingkungan Tzu Chi.
Hari minggu yang biasanya dimanfaatkan untuk bermalas-malasan di rumah ataupun di tempat rekreasi, namun oleh para bodhisatwa Tzu Chi Pekanbaru justru digunakan untuk berolahraga dan melakukan kebajikan di Posko Daur Ulang Tzu Chi Pekanbaru.
Kegiatan ini diisi dengan melakukan semacam Tai Chi bersama-sama di Kantor Perwakilan Tzu Chi Pekanbaru yang dilaksanakan oleh muda-mudi Tzu Chi (Tzu Ching). Menurut Cori, salah satu anggota Tzu Ching, kesempatan berbagi pengalaman dan ilmu ini amatlah menyenangkan dan membanggakan. “Ya, saya sangat senang bisa berbagi ilmu dan ternyata antusiasme para insan Tzu Chi Pekanbaru cukup baik,” tandas Cori. Meski dilakukan di hari Minggu, ternyata tidak sedikit insan Tzu Chi yang hadir tepat waktu dan mengajak anggota keluarganya.
Berkontribusi Menjadi Seniman  Bangunan.
Setelah melakukan Tai Chi sebanyak 10 anggota Tzu Ching bersama-sama melakukan perjalanan menuju Posko Daur Ulang Tzu Chi yang berada di Perumahan Jondul. Para Tzu Ching ini mendapatkan ladang berkah untuk memperindah posko daur ulang ini dengan menjadi seniman bangunan, yaitu mengecat.
Selain melakukan pengecatan dinding dan tiang posko daur ulang ini, beberapa anggota Tzu Ching yang baru bergabung pun ikut serta diperkenalkan dengan kegiatan daur ulang ini. Dengan mengusung Kata Perenungan Master Cheng Yen: “Mengubah Sampah menjadi Emas, mengubah Emas menjadi Cinta Kasih”, seluruh anggota Tzu Ching yang terlibat bersungguh-sungguh mengecat posko daur ulang ini.
foto  foto
Keterangan :
  • Para anggota Tzu Ching ini bahu membahu memperindah Posko Daur Ulang Tzu Chi Pekanbaru. (kiri)
  • Relawan Tzu Chi, Tzu Ching dan juga anak-anak kelas budi pekerti Tzu Chi melakukan kegiatan olahraga pagi bersama di Kantor Perwakilan Tzu Chi Pekanbaru. (kanan)
Setelah melakukan pengecatan dan daur ulang sampah, para Tzu Ching pun berkumpul dan men-sharingkan pengalamannya masing-masing dalam kegiatan ini. Antony, salah satu anggota Tzu Ching berkomentar, “Xin fu te lian!” (wajah yang penuh senyuman kebahagiaan). Johny, salah seorang anggota Tzu Ching yang baru, ”Sangat bahagia bisa ikut mencatatkan sejarah dengan memperindah posko daur ulang ini. Tidak semua orang bisa mendapatkan keistimewaan seperti ini!”
Kebahagiaan para Tzu Ching tidak berhenti sampai di situ,  Jamalrudin, relawan Tzu Chi  sungguh berterima kasih dengan sumbangsih generasi muda Tzu Chi ini. “Sungguh Tzu Ching telah sangat membantu. Semoga kegiatan ini tidak berhenti sampai di sini saja,  sangat Gan En  atas bantuan Tzu Ching,” kata Jamalrudin memuji. Dengan bertambahnya tangan-tangan relawan Tzu Ching, maka makin banyaklah Bodhisatwa dunia yang akan menjalankan Misi Tzu Chi di dunia, terutama di Pekanbaru.

Jumat, 21 Januari 2011

Masyarakat Indonesia - Tionghoa Protes Penurunan Patung Buddha

Vihara Tri Ratna Tanjung Balai
Buddhistzone.com | Tanjung Balai - Masyarakat Indonesia - Tionghoa di Kota Tanjung Balai, Sumatra Utara memprotes rencana pemerintah kota untuk membongkar sebuah patung Buddha di atas Vihara Tri Ratna.
Walikota Sutrisno Hadi telah memerintahkan bahwa patung itu harus diturunkan, Beliau menyatakan bahwa keputusan ini diambil karena tekanan publik. Namun, banyak pihak yang curiga kalau kebijakannya ini lebih dikarenakan kepentingan politik semata.
Bagi umat Buddha, tindakan walikota ini merupakan tindakan yang tidak bijaksana dan diskriminasi terhadap agama mereka dan tindakan ini juga mengancam prinsip Bhineka Tunggal Ika, persatuan dalam keberagaman.
Bapak W. Lie, dari Masyarakat Indonesia - Tionghoa, mengatakan ia sangat terkejut mengetahui bahwa keputusan telah diambil dan disebut - sebut berdasarkan kesepakatan bersama oleh para pejabat dan pemimpin agama, termasuk tokoh Buddhis.
Lie mengakui, perwakilan umat Buddha memang dilibatkan dalam perjanjian bersama, tetapi isi "Perjanjian Bersama" tersebut tidak sesuai dengan harapan perwakilan umat Buddha. Menurut Lie, pemimpin vihara, Suwanto Saima dipaksa untuk menandatangani perjanjian dibawah tekanan.
"Sayangnya, kami tidak memiliki kesempatan untuk bertanya kepada Beliau, siapa yang telah mengintimidasinya karena Beliau ditabrak becak dari belakang dan meninggal seminggu kemudian," kata Lie kepada wartawan.
Bapak Lie melanjutkan, "Meskipun perjanjian ini sudah dikeluarkan, masyarakat Buddha di Tanjung Balai, mungkin juga umat Buddha di seluruh Indonesia tetap tidak setuju kalau patung itu harus diturunkan. Patung itu sudah dua tahun berada diatas Vihara, Mengapa tidak dari awal keberatannya?"
Bapak Lie menambahkan "upSuasana Peresmian Vihara Tri Ratna Tanjung Balaiaya untuk menurunkan patung ini telah melukai perasaan masyarakat Buddha Tanjung Balai khususnya dan Indonesia pada umumnya".
"Kami tidak ingin menurunkan patung itu. Kami tidak takut karena ini menyangkut simbol Tuhan dan keimanan kami. Namun kalau pemerintah kota tetap ingin menurunkannya, mereka pasti bisa, karena kami tidak mungkin bisa melawan pemerintah, namun tindakan itu tidak mencerminkan seorang pemimpin yang baik" kata Lie 
Dia menambahkan, disisi lain Masyarakat Indonesia - Tionghoa di Tanjung Balai saat ini juga kuatir disusupi oleh provokator yang memanfaatkan kesempatan ini, jadi sebagian besar umat Buddha di kota ini lebih memilih tetap diam untuk menghindari kontroversi, namun perlu digarisbawahi diam pada masalah ini bukan berarti setuju.
Ketua Sumatera Utara Bersatu, Veryanto Sitohang menyatakan prihatin terhadap masalah ini, karena disinyalir keputusan ini ada kaitannya dengan pemilihan walikota.
"Anak Walikota saat ini sedang bersaing untuk mendapatkan posisi teratas kota. Berdasarkan informasi ini, Beliau ditekan oleh sebuah organisasi Islam untuk menurunkan patung sebagai syarat dukungan mereka untuk pencalonan anaknya sebagai walikota," kata Veryanto.
Pemilihan walikota pada bulan Agustus yang lalu menampilkan sembilan pasang calon. Berdasarkan hasil Eka Hadi Sucipto (putra walikota) - Afrizal Zulkarnaen dan Thamrin Munthe - Rolel Harahap seharusnya masuk ke putaran kedua tetapi karena pasangan Eka Hadi Sucipto (putra walikota) - Afrizal Zukarnain diadukan ke Mahkamah Konstitusi karena melakukan kecurangan selama pemilihan.
Mahkamah Konstitusi pada 29 September memerintahkan diulang kembali pada 13 kecamatan karena pasangan Eka Hadi Sucipto (putra walikota) - Afrizal Zulkarnaen terbukti melakukan MONEY POLITIK,yaitu pratek membeli suara.
Seharusnya saat ini sudah diulang kembali pemilihan di 13 kecamatan yang melibatkan sembilan pasangan calon namun komisi pemilihan belum memberikan jadwal itu karena kekurangan dana.
Ketika ditanya wartawan tentang hal ini Walikota Sutrisno Hadi mengatakan, masalah dikeluarkannya Keputusan penurunan patung itu tidak ada kaitannya dengan pemilu.
"Menurunkan patung adalah murni untuk memenuhi tuntutan publik dan tidak ada hubungannya dengan politik atau pemilu," kata Sutrisno.
Sutrisno mengatakan ia tidak pernah memerintahkan bahwa patung Buddha dibongkar tapi keputusan ini berdasarkan kesepakatan bersama yang ditandatangani pada bulan Agustus yang lalu. Ia mengatakan setiap pihak, termasuk militer, polisi dan kantor kejaksaan, hadir ketika perjanjian ditandatangani.
"Dalam pertemuan tersebut, Ketua Vihara mengatakan mereka siap untuk menurunkan patung itu dan memindahkannya ke tempat lain. Pemerintah kota tidak pernah mengintimidasi mereka," kata Sutrisno.
sumber