Kamis, 23 Desember 2010

Ember Bocor Yang Sedih


Udara dingin pegunungan di sela deraian daun. Kemilau jingga keemasan mentari senja tampak memantul berganti-gantian di permukaan air yang beriak dalam dua ember yang dipikul seorang petani. Sebuah rutinitas yang tampaknya dijalani dengan keriangan hati.
Dalam hempasan nafas lelah yang panjang, tersirat binar kepuasandalam raut wajah sang petani pembawa ember air tesebut. Akan tetapi, suatu kala terjadi sesuatu diantara dua ember yang dipikul petani tersebut. Akan tetapi, sutu kala terjadi sesuatu di antara dua ember yang di pikul petani tersebut. Salah stu ember berujar kepada ember yang lain, “hei, cobalah lihat dirimu, ember bocor, bercerminlah. Sadarkah engkau setiap hari membuang setengah dari air yang terisi penuh?” Ember bocor kaget dan menyadari ada sebuah lubang hakus pada dirinya. Sepanjang perjalanan, air yang dibawahnya perlahan menetes keluar dan tersisa setengahnya ketika sampai di tujuan.
Kesedian mulai mengaduk-aduk perasaan ember bocor. Ia mulai merasa dirinya ember yang tak berguna. Ia tak dapat memberikan yang terbaik terhadap sang petani. Setiap hari ia hanya merasa menjadi beban, merugikan petani setengah dari kapasitas yang mestinya bisa ia bawa. Hari demi hari, batin ember bocor terasa semakin hampa dan tersiksa.
Suatu hari, petani menyadari ember bocor yang sedang menangis. Petani menanyakan alasan mengapa ember bocor merasa sedih. Setelah memahami semuanya, petani tersenyum sambil memandang hamparan langit biru, kemudian berujar, “tahukah engkau, kenapa aku bahagia memilikimu? Meskipun sepanjang perjalanan engkau menetes separuh air yang dibawa....”
Ember bocor terperanjat dan bertanya, “ke-ke-kenapa?” petani melanjutkan, “lihatlah hamparan jalan yang setiap hari kita lalui setiap hari. Salah satu sisi jalan ditumbuhi oleh bunga-bunga yang indah bukan? Tahukah engkau bunga-bunga itu tumbuh karena tetesan air yang jatuh darimu? Karena ‘ketidaksempurnaan’ yang engkau milikilah, bunga-bunga indah tersebut tumbuh berkembang!”
Suatu perasaan ringan spontan menggelora dalam diri ember bocor. Ya, dalam segenap kekurangan dan keburukan, ternyata masih ada keindahan yang dapat tumbuh. Keindahan yang mengalir bersama kuntum-kuntum bunga yang terseyum.
Kesimpulan : - menurut saya, isi dari artikel ini yang saya ambil dari buku Ehipassiko. Bawah kita harus menerima kita apa adanya dengan kekurangan yang kita miliki dan bersyukur terhadap kelebihan kita, janganlah banyak mengeluh berlatihlah diri dengan cara meditasi.
Williy Yanto Wijaya. 2010. Kasih Selembut Awan. Jakarta. Ehipassiko Collection.

Senin, 06 Desember 2010

Gambar-gambar Anak-anak SMB Lagi Meditasi

ini adalah gambar secara keseluruhan yang di ambil dari jarak yang lumayan jauh,






dan inilah foto-foto yang di ambil dari dekat pada saat meditasi untuk anak SD




















Minggu, 05 Desember 2010

Kegiatan Rutinitas setiap minggu di Vihara Dhamma Santi

setiap minggu nya anak-anak SMB(sekolah minggu buddhist) melaksankan kebaktian dan meditasi untuk anak kelas 4 SD sampai SMP sebelum memulai kegiatan sekolah minggu, setelah itu baru anak-anak SMB di ngajar oleh tutor-tutor yang ada(semua tutor adalah anak SMA/SMK yang di kordinir oleh guru agamanya, yaitu : Wulandari, S.Ag) dan inilah beberapa foto yang baru tadi pagi di ambil oleh salah satu tutor, yaitu : Lukman S.W, di dukung oleh beberapa tutor lainnya, seperti: Hendri ( kamera ), Sepryadi Nirwan ( komputer ),dan inilah foto-foto nya :